Laman

Job

  1. Tajir Kerja Dari Rumah

    www.rahasianadiameutia.com
    Mau tahu bagaimana kerja dr Rumah?
    msh bisa krj kantoran, gaji tambah

Minggu, 25 April 2010

Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda

Apakah Anda Pemimpin Yang Hebat?

Sebagian kita adalah pemimpin bagi sebagian yang lain.
Jika anda punya satu orang anggota saja, maka anda adalah seorang pemimpin.

Dalam bukunya yang amat terkenal, Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda, John C. Maxwell berkata, "Mengubah pemimpin berarti mengubah organisasi. Menumbuhkan pemimpin, menumbuhkan organisasi."

Artinya? Perusahaan atau organisasi tidak akan berubah dan tidak akan berjalan ke arah yang dicita-citakan, apabila para pemimpinnya sendiri, di bagian apapun, tidak berubah dan tidak tumbuh. Sebuah organisasi tidak bisa tumbuh di luar sampai para pemimpinnya sendiri tumbuh di dalam.

Jika seluruh unit kepemimpinan berubah secara positif, maka pertumbuhan organisasi atau perusahaan akan terjadi secara otomatis. Pemimpin yang lemah sama dengan organisasi yang lemah. Pemimpin yang kuat sama dengan organisasi yang kuat. Segala-galanya akan naik atau turun, sesuai dengan kekuatan kepemimpinan.

Kita mungkin juga bisa sepakat bahwa perbedaan antara perusahaan yang baik dengan perusahaan yang hebat juga adalah kepemimpinan. Apakah Anda bersedia jadi pemimpin yang hebat?

Syaratnya, mau berubah ! Apa ada pemimpin yang menolak perubahan? Banyak.! Perlawanan terhadap perubahan adalah sesuatu yang universal sifatnya, menyerang semua kelas dan budaya. Sekalipun sudah ditunjukkan berbagai fakta kebenaran dan bukti nyata, tetap saja banyak pemimpin yang tidak mau mengubah sikap dan pikirannya.

Maxwell mengambil sebuah kisah yang amat menarik tentang Henry Ford yang gagal memimpin dunia otomotif lantaran ia tidak mau berubah, seperti yang dilukiskan dalam biografi Robert Lacy yang laris, Ford: The Man and the Machine. Lacy mengatakan Ford adalah orang yang begitu mencintai mobil model T yang diciptakannya sehingga ia tidak mau mengubah satu baut pun pada mobil itu. Dia bahkan mendepak William Knudsen, karena Knudsen berpikir dia melihat kemerosotan Model T.

Itu terjadi tahun 1912, ketika Model T baru berumur empat tahun dan sedang berada di puncak popularitasnya. Saat itu Ford baru saja kembali dari perjalanan pesiar di Eropa, dan dia pergi ke garasi Highland Park, Michigan, dan melihat rancangan baru yang diciptakan Knudsen.

Para montir yang ada disana mencatat bagaimana Ford sesaat menjadi mata gelap. Dia memandangi kilatan cat merah pada versi Model T yang rendah yang dianggapnya sebagai versi yang buruk dari rancangan Model T yang disayanginya. "Ford memasukkan tangan ke dalam sakunya, dan dia berjalan mengelilingi mobil tiga atau empat kali," kata para saksi mata menceritakan. "Itu adalah mobil empat pintu, dan atapnya diturunkan. Akhirnya, dia pergi ke sisi kiri mobil, dan dia mengeluarkan tangannya, memegang pintu, dan gubrak! Dia merenggutkan pintu sampai copot! . Bagaimana orang itu melakukannya, saya tidak tahu! Dia melompat masuk, dan gubrak! Copot pula pintu lainnya. Hancurlah kaca depan. Dia melompat ke jok belakang dan mulai memukuli atap. Dia merobek atap dengan tumit sepatunya. Dia menghancurkan mobil sebisa-bisanya."

Knudsen keluar dan pergi ke General Motors. Henry Ford terus memelihara Model T. Tetapi perubahan desain dalam model pesaing membuatnya menjadi lebih kuno daripada yang diakuinya. Kendati General Motor mengancam akan mendahului Ford, sang pencipta tetap menginginkan kehidupan membeku di tempatnya.

Contoh berikut pun cukup menarik. Selama berabad-abad orang percaya bahwa Aristoteles benar, dengan teorinya: bahwa semakin berat suatu benda, semakin cepat benda itu jatuh ke tanah. Pada waktu itu Aristoteles dipandang sebagai pemikir terbesar sepanjang zaman dan karena itu tentu saja dia tidak mungkin salah. Padahal yang diperlukan hanyalah seorang yang berani untuk mengambil dua buah benda, yang satu berat dan lainnya ringan, lalu menjatuhkannya dari ketinggian yang cukup untuk melihat apakah benda yang berat memang jatuh lebih dahulu atau tidak. Tetapi saat itu tidak ada orang yang tampil ke depan sampai hampir 2000 tahun setelah kematiannya.

Pada tahun 1589, Galileo memanggil para professor yang terpelajar ke landasan Menara Miring Pisa. Kemudian dia naik ke puncak dan mendorong jatuh dua buah beban, yang satu seberat sepuluh pon dan yang lainnya satu pon. Hasilnya, keduanya ternyata mendarat pada saat yang sama!

Apa kata para professor? Karena mereka tetap yakin dengan kekuatan kebijaksanaan konvensional yang demikian kokoh bersemayam dalam diri mereka, para professor itu tetap menyangkal apa yang mereka lihat. Mereka tetap mengatakan bahwa Aristoteles benar, lalu lemparkan Galileo ke penjara dan melewatkan sisa hidupnya dalam tahanan rumah.

Pertanyaannya, masih adakah sesuatu yang begitu kuat anda yakini sehingga sekalipun sudah berulang kali diperlihatkan fakta-fakta betapa pentingnya kita segera berubah, tetap saja Anda tidak mau berubah?

Karena itulah, Howard Hendrick, dalam Teaching to Change Lives mengingatkan: Kalau Anda ingin terus memimpin, maka Anda harus berubah. Begitu para pemimpin secara pribadi mau berubah dan mulai melakukannya, maka segala sesuatu yang berada dalam tanggungjawabnya pasti segera berubah. Para pemimpin adalah motor perubahan, dan karena itu ia harus berada di depan untuk menggerakkan perubahan dan mendorong pertumbuhan serta menunjukkan jalan untuk mencapainya.

Tapi terkadang ada pula sebagian pemimpin kita yang mungkin berperilaku seperti Lucy dalam kartun "Peanuts". Sambil menyandar ke pagar ia berkata pada Charlie Brown, "Saya ingin mengubah dunia." Charlie bertanya, "Darimana kamu akan memulai?" Lucy menjawab, "Saya akan mulai dengan kamu!"

Para pemimpin yang ada di seluruh bagian perusahaan dimanapun ia berada, harus mampu menjadi motor perubahan. "Mereka harus lebih menjadi termostat daripada termometer," kata Maxwell, dalam bukunya Mengembangkan Kepemimpinan Di Sekeliling Anda.

Apa bedanya? Kedua alat ini memang sama-sama bisa mengukur panas, tapi ada bedanya. Termometer bersifat pasif. Ia hanya mencatat suhu lingkungan tetapi tidak bisa melakukan apapun untuk mengubah lingkungan. Termostat adalah alat yang aktif. Alat ini menentukan akan menjadi apa sebuah lingkungan. Termostat mempengaruhi perubahan supaya bisa menciptakan iklim. Pemimpin yang baik, mampu menjadi motor perubahan yang menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan cita-cita perusahaan.

Perubahan Apa?
John C. Maxwell dalam buku "The Winning Attitude" menggambarkan, "orang berubah ketika mereka cukup sakit sehingga harus berubah; cukup belajar sehingga ingin berubah; cukup menerima sehingga mereka bisa berubah." Karena itu para pemimpin perlu mengenali siapa-siapa saja orang-orangnya yang berada dalam salah satu dari tiga tahap ini. Sedangkan para pemimpin puncak akan menciptakan suasana yang menyebabkan salah satu dari tiga hal ini terjadi.

Apa yang pertama dan utama sekali perlu diubah oleh para pemimpin, sehingga ia mampu menciptakan suasana yang akan mendorong orang lain ikut berubah?

Maxwell, mengajarkan:
Pertama, pemimpin harus mengembangkan kepercayaan dengan orang lain. Kalau anggota tim percaya kepada pemimpin, itu sudah lumayan hebat. Akan tetapi jauh lebih hebat lagi jika justru pemimpin yang percaya kepada para anggotanya. Bila ini benar-benar terjadi, kepercayaan adalah hasilnya, maka semua pun akan mengikuti. Abraham Lincoln berkata, "Kalau Anda ingin merebut hati seseorang agar mendukung perjuangan anda, mula-mula yakinkan dia bahwa anda sahabatnya yang sejati. Lalu selidikilah apa yang ingin dicapainya." Ujian praktis bagi seorang pemimpin adalah pertanyaan, "Bagaimana hubungan Anda dengan para pengikut Anda?" Kalau hubungannya positif, maka pemimpin itu telah siap untuk mengambil langkah-langkah berikutnya.

Kedua, pemimpin harus membuat perubahan pribadi pada dirinya sendiri, sebelum meminta orang lain berubah. Para pemimpin sukses bukan hanya mengatakan apa yang harus dilakukan, mereka memperlihatkannya! Orang meniru apa yang mereka lihat dari sang pemimpin. Apa yang dihargainya akan dihargai pula oleh anak buahnya. Tujuan pemimpin menjadi tujuan mereka. Lee Iacocca berkata, "Kecepatan bos adalah kecepatan tim." Kita perlu ingat bahwa kalau orang mengikuti kita, mereka hanya bisa pergi sejauh kita pergi. Kalau pertumbuhan kita berhenti, kemampuan kita untuk memimpin pun akan berhenti. Karena itu mulailah belajar dan tumbuh sejak hari ini, maka lihatlah mereka yang ada di sekeliling anda, mereka pun ternyata tumbuh dan berubah. Ambil contoh saja, mulailah menghilangkan sikap takut mengatakan hal-hal yang tidak ingin didengar oleh atasan anda. Sebagai pemimpin anda harus melaporkan dan menyampaikan apa yang perlu anda laporkan, bukan apa yang sebaiknya dilaporkan. Lalu rangsanglah anggota organisasi anda untuk berani pula menyampaikan apa yang perlu anda dengar, bukan apa yang ingin anda dengar.

Ketiga, perlihatkan kepada tim anda bagaimana perubahan itu sebenarnya akan sangat menguntungkan bagi mereka. Sebab perubahan yang sedang kita lakukan saat ini adalah jalan terbaik bagi seluruh pihak,demi masa depan semua orang, bukan bagi anda sebagai pimpinannya. Kepentingan orang banyak itulah yang harus didahulukan.

Keempat, beri mereka andil kepemilikan atas perubahan itu. Kalau orang kurang ikut memiliki suatu gagasan, mereka biasanya menentangnya, bahkan seandainya pun gagasan itu sebetulnya untuk kepentingan mereka yang terbaik! Pemimpin yang bijaksana memungkinkan pengikut bisa memberikan masukan dan menjadi bagian dari proses perubahan. Tanpa rasa memiliki ini, perubahan hanya akan berjangka pendek. Mengubah kebiasaan dan cara berpikir orang banyak seperti menulis perintah di atas salju dalam badai. Setiap duapuluh menit perintah harus ditulis kembali, kecuali kalau kepemilikan diberikan bersama dengan perintah.

Karena itu, kata Trusell dalam Helping Employees Cope with Change: A Manager's GuideBook, "Tunjukkan kepada orang lain bagaimana perubahan akan menguntungkan mereka. Mintalah mereka untuk berperan serta dalam semua tahap proses perubahan. Bersikaplah lentur, terbuka dan bisa menyesuaikan diri sepanjang proses perubahan. Akuilah kesalahan dan buatlah perubahan kalau sesuai dengan keadaan. Doronglah setiap anggota tim untuk membicarakan perubahan. Mintalah pertanyaan, komentar dan umpan balik mereka. Tunjukkan keyakinan anda atas kemampuan mereka untuk melaksanakan perubahan. Akhirnya jangan lupa berilah selalu antusiasme, bantuan, penghargaan, dan pengakuan kepada mereka yang melaksanakan perubahan.

oleh: Nilnaiqbal - editorku.com
Suka dengan artikel ini? [Bagikan artikel ini ke teman2-mu di FACEBOOK. Klik disini]

Powered by PHP Fusion v6.00.304 © 2003-2009 | Privacy Policy

KECERDASAN EMOSIONAL DALAM KEPEMIMPINAN DAN ORGANISASI

EXECUTIVE EMOTIONAL QUOTIENT –
Posted on | August 20, 2009 | No Comments
September 9, 2009

EXECUTIVE EMOTIONAL QUOTIENT – KECERDASAN EMOSIONAL DALAM KEPEMIMPINAN DAN ORGANISASI

One Prescious Day Workshop

PENJELASAN PROGRAM :

Menghadapi Bulan Suci Ramadhan merupakan sebuah suka cita luar biasa. Tetapi apakah yang membuat suka cita tersebut luar biasa?

• Apakah nuansa kesucian?
• Apakah makna kebiasaan?
• Ataukah sebuah tujuan dan perubahan baru yang ingin Anda petakan?

Kami mempersembahkan sebuah pelatihan bagian dari People Development sebuah pelatihan yang sanagat sesuai sebagai sarana meyentuh Ramadhan yaitu Executive Emotional Quotience: kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi.
Program ini disusun secara sistematis untuk merancang EQ Anda dalam pelaksanaan tugas sebagai pemimpin dalam organisasi Anda. Tujuannya mutlak: Memberikan pencapaian yang maksimal dalam kinerja kepemimpinan Anda.

Workshop ini juga telah diujikan kepada ratusan manajer eksekutif dan professional dari puluhan organisasi dari berbagai ragam bisnis.
Orang yang memiliki EQ tinggi adalah orang yang mampu mengatasi konflik, kesenjanganyang perlu dijembatani, melihat hubungan tersembunyi yang menjanjikan peluang, lebih cekatan, lebih cepat, dan lebih siap.
EQ dalam program ini juga dirancang sebagai Charisma Generator, yang menumbuhkan citra positif bagi Anda.
Program dilaksanakan dengan metode Self Assessment, Group Discussion, Individual Breakthrough, Multimedia, dan NLP Approach sehingga benar benar menggerakkan emosi kepemimpinan Anda.

Ikuti workshop ini, dan sebarkanlah di lingkungan kerja Anda, dengan sharing session di organisasi Anda. Dengan demikian Anda juga menebarkan pencapaian tujuan Anda.
Mari bersama-sama menyambut datangnya Ramadhan dengan nilai unggul bukan hanya di pekerjaan melainkan dalam setiap aspek kehidupan melalui keadaran emosi kepemimpinan Anda.

TUJUAN PROGRAM:

Setelah mengikuti pelatihan ini, partisipan diharapkan mampu untuk:
1. Memahami Nilai Kecerdasan Emosional dalam Organisasi
2. Memahami akar kegagalan masa lalu dan menebus dengan keberhasilan kini dan mendatang
3. Memahami Kepemimpinan melalui peta Emosi
4. Lebih sigap, lebih peka, dan lebih mampu
5. Memiliki teknik mempengaruhi
6. Membangkitkan Karisma Kepemimpinan
7. Menghasilakan pencapaian lebih

OUTLINE MATERI :

1. THE FIRST KEYSTONE
- Kejujuran Emosi
- Energi Emosi
- Umpan Balik Emosi
- Intuisi Praktis
- Mengukur Tingkat EQ Anda

2. THE SECOND KEYSTONE
- Radius Kepercayaan
- Ketidakpuasan Konstruktif
- Ketangguhan dan Pembaruan

3. THE THIRD KEYSTONE
- Potensi dan Panggilan Hidup
- Komitmen
- Integritas Terapan
- Pengaruh Tanpa otoritas

4. THE FOURTH KEYSTONE
- Intuisi
- Refleksi
- Penginderaan peluang
- Menciptakan Masa Kini dan Masa Depan


Elements of SEO is Powered by WordPress | Website Design - Drew Stauffer | Accessible Website Development - Alibi Productions
SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline

Seven Personal Characteristics Of A Good Leader

How often have you heard the comment, "He or she is a born leader?" There are certain characteristics found in some people that seem to naturally put them in a position where they're looked up to as a leader.

Whether in fact a person is born a leader or develops skills and abilities to become a leader is open for debate. There are some clear characteristics that are found in good leaders. These qualities can be developed or may be naturally part of their personality. Let us explore them further.

SEVEN PERSONAL QUALITIES FOUND IN A GOOD LEADER

1. A good leader has an exemplary character. It is of utmost importance that a leader is trustworthy to lead others. A leader needs to be trusted and be known to live their life with honestly and integrity. A good leader "walks the talk" and in doing so earns the right to have responsibility for others. True authority is born from respect for the good character and trustworthiness of the person who leads.

2. A good leader is enthusiastic about their work or cause and also about their role as leader. People will respond more openly to a person of passion and dedication. Leaders need to be able to be a source of inspiration, and be a motivator towards the required action or cause. Although the responsibilities and roles of a leader may be different, the leader needs to be seen to be part of the team working towards the goal. This kind of leader will not be afraid to roll up their sleeves and get dirty.

3. A good leader is confident. In order to lead and set direction a leader needs to appear confident as a person and in the leadership role. Such a person inspires confidence in others and draws out the trust and best efforts of the team to complete the task well. A leader who conveys confidence towards the proposed objective inspires the best effort from team members.

4. A leader also needs to function in an orderly and purposeful manner in situations of uncertainty. People look to the leader during times of uncertainty and unfamiliarity and find reassurance and security when the leader portrays confidence and a positive demeanor.

5. Good leaders are tolerant of ambiguity and remain calm, composed and steadfast to the main purpose. Storms, emotions, and crises come and go and a good leader takes these as part of the journey and keeps a cool head.

6. A good leader, as well as keeping the main goal in focus, is able to think analytically. Not only does a good leader view a situation as a whole, but is able to break it down into sub parts for closer inspection. While keeping the goal in view, a good leader can break it down into manageable steps and make progress towards it.

7. A good leader is committed to excellence. Second best does not lead to success. The good leader not only maintains high standards, but also is proactive in raising the bar in order to achieve excellence in all areas.

These seven personal characteristics are foundational to good leadership. Some characteristics may be more naturally present in the personality of a leader. However, each of these characteristics can also be developed and strengthened. A good leader whether they naturally possess these qualities or not, will be diligent to consistently develop and strengthen them in their leadership role.

Barbara White President of Beyond Better Development has over twenty years experience in leadership. Beyond Better Development works with organizations who want their leaders to develop towards their potential and stay on the cutting edge. More about Leadership Developmentand Good Leadership Skills

Article Source: http://EzineArticles.com/?expert=Barbara_White

This article has been viewed 337,639 time(s).
Article Submitted On: August 12, 2005
Ads By Google Leadership 6 Leadership Styles Tips for Leadership Leadership Is Male

* MLA Style Citation:
White, Barbara "Seven Personal Characteristics Of A Good Leader." Seven Personal Characteristics Of A Good Leader. 12 Aug. 2005 EzineArticles.com. 25 Apr. 2010 .

* APA Style Citation:
White, B. (2005, August 12). Seven Personal Characteristics Of A Good Leader. Retrieved April 25, 2010, from http://ezinearticles.com/?Seven-­Personal-­Characteristics-­Of-­A-­Good-­Leader&id=59305

* Chicago Style Citation:
White, Barbara "Seven Personal Characteristics Of A Good Leader." Seven Personal Characteristics Of A Good Leader EzineArticles.com. http://ezinearticles.com/?Seven-­Personal-­Characteristics-­Of-­A-­Good-­Leader&id=59305

Ads by Google

© 2010 EzineArticles.com - All Rights Reserved Worldwide.